IMM Blitar, Paguyuban Srengenge dan Secangkir Kopi yang Mengendap




imm.blitar.or.id - Selepas acara bedah buku “Muhammadiyah Jawa”, Pak Basori yang notabene adalah Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PDM Kabupaten Blitar, mendatangi saya dan mengajak bergabung ke MPI. Bagi saya itu sebuah penghormatan, sebab ada pengurus PDM yang tahu dimana “habibat” kadernya, dan lalu memberi tempat.

Begitupun sekitar bulan Agustus 2015, saya pertama kali berjumpa dengan Kang Khabib, Kang Atim, dan Ibnu di Kedai SS perempatan kawi yang kini sudah berganti nama. Perbincangan tersebut membahas banyak hal tentang IMM Blitar mulai dari sejarah, gerakan, harapan, dan kondisi saat itu yang tengah vakum.

Tahun itu saya baru kembali dari Malang, setelah 7 tahun lamanya berproses di Kota Apel tersebut. Konon Kang Khabib kenal saya dari tulisan yang berserak, terutama tulisan selama saya aktif di IMM Malang, dari Komisariat sampai Cabang. Komunikasi pertama kami melalui facebook, lalu bertukar nomor WA dan kemudian bertemu untuk pertama kalinya di Blitar.

Selanjutnya kami selalu nampak bertiga, terutama ketika silaturahim ke rumah bapak-bapak, dan kemudian membentuk Paguyuban Srengenge. Mungkin banyak yang mengira itu “komplotan baru”, namun sesungguhnya dalam berbagai hal kami tidak selalu satu suara. 

Misalkan tentang kenapa IMM Blitar tiba-tiba lahir menjadi Cabang. Kenapa tidak komisariat yang berinduk di Cabang kota terdekat, misalkan Malang atau Kediri. Bahkan sempat terfikir jikalau ini hanya demi interest politik jelang Musyda. Namun karena ketua DPD kala itu juga seorang Instruktur perkaderan, mungkin saja ada sisi lain yang dilihat.

Sebenarnya hanya komisariat yang memiliki kader. Cabang hanya “memetik” kader-kader matang disetiap komisariat. Sehingga bisa dibayangkan, kalau tidak ada komisariat. Dalam aturan IMM sendiri, Cabang baru bisa berdiri kalau ada dua komisariat. Namun karena kebijakan pendirian PC IMM Blitar didukung langsung oleh DPD dan DPP, ya mau tidak mau akan tetap disahkan. 

Baru pasca diskusi itu, dan selepas masa vakum, kemudian akan difikirkan berdirinya komisariat. Itu berarti perjuangan masih agak panjang, sebab tanpa komisariat, cabang tidak akan mampu bertahan lama.

Setelah IMM Blitar terbangun kembali dengan Sukma Ulinuha sebagai ketuanya, maka Paguyuban Srengenge juga bergiat sebagai pengiring. Misal dengan menggelar kajian rutin, bedah buku, dan meluncurkan website untuk menampung ide dan gagasan. Gerakan ini kemudian tercium juga, bahkan sampai luar daerah. Karena itulah diundang ke acara Tadarus Pemikiran Kaum Muda Muhammadiyah pada bulan puasa 2016.

Sementara IMM Blitar juga semakin menggeliat dengan program-programnya, juga pertisipasi aktif terutama di lingkup wilayah Jatim.

Saya yang membantu di Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) kemudian juga urun rembuk soal program apa yang sekiranya bisa dijalankan. Selain tentu saja pengadaan website sebagai media utama, juga adanya kegiatan pengayaan wawasan seputar website, yang kemudian diadakanlah Workshop Pengelolaan Website di Masjid Pojok Garum, yang dibuka dengan Kajian Ahad Pagi oleh Pak Nadjib Hamid.

Acara itu sangat berkesan, sebab bisa jadi geliat pustaka dan informasi bermula di sini. Meski sebenarnya agenda itu harusnya berkesinambungan, melalui forum-forum kecil yang informal. Lagipula, Informasi—atau lebih luas lagi digitalisasi—sebenarnya bukan soal media semata. Begitu pun dengan literasi, bukan hanya soal baca-tulis, namun lebih pada pemahaman dan keterbukaan. Itulah kenapa ada istilah literasi bisnis, literasi keuangan, dll.

Sekiranya itu tidak dibaca sebagai suatu hal yang terpisah, mungkin dampaknya bisa lebih meluas. Andaikan website bisa aktif dan sumber daya manusianya ada, barangkali bisa dikembangkan dalam bentuk aplikasi. Dokumentasi kegiatan, sampai misal produk wirausaha warga bisa dipromosikan. Dalam satu tarikan, banyak hal bisa dipublikasi. Apalagi mengingat jargon kewirausahaan yang terus digaungkan.

Suatu saat cita-cita besar ini mungkin akan berjalan, hanya saja butuh waktu. Sedikit demi sedikit, setahun dua tahun, sampai pada akhirnya muncul kesadaran komunal tentang hal ini. Sebab bergerak tidak bisa sendiri, harus bersinergi. Misalkan saja, untuk menginformasikan kegiatan cabang, ranting dan ortom, tidak bisa bila setiap kegiatan dikunjungi MPI. Yang paling mungkin cabang, ranting, ortom atau AUM mengirimkan foto dan sekilas informasi, untuk kemudian diolah oleh tim media.

Namun yang penting pula difikirkan bukan medianya, tapi sumber daya manusia serta kultur yang menunjang. IMM Blitar sebagai ortom yang bergerak di kampus tentu akan menjadi sumber daya yang potensial. Namun potensi tersebut tidak akan ada jika tidak dipersiapkan. Sebab jika tidak dipersiapkan maka tidak boleh juga diharapkan.

IMM Blitar sebagai ortom setidaknya harus tetap didukung keberadaannya, meski banyak kekurangan sana sini, dan mungkin juga tidak selalu bisa memenuhi ekspektasi Ayahanda dan Ibunda. Sebab perkaderan yang saat ini bisa diharapkan ya dari IMM—dan juga IPM—dari kedua ortom tersebut kader-kader baru bermunculan, kader akademik dan kader ideologis.

Paguyuban Srengenge, pada praksisnya hanyalah penguat kultur/budaya, sebagai “bahan bakar” tambahan, melalui diskusi-diskusi kultural sembari nongkrong dan ngopi bareng, namun juga menghasilkan gagasan, ide, dan alternatif wacana yang kemudian dipublikasikan melalui website.

Ikhtiar semacam ini tentu tidak mudah, apalagi jika menyangkut perkaderan dan kultur secara umum. Butuh energi yang tidak sedikit dengan hasil yang tidak langsung bisa dilihat. Butuh waktu, entah berapa lama, sampai kopi yang tersaji menjadi dingin dan hanya tersisa endapan, yang mengering tertiup angin. []

Blitar, 7 Januari 2017
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com

Tidak ada komentar