Dinamika Intelektual IMM




Fokal IMM Blitar - Diakui atau tidak bila melihat dari segi normatif maupun stuktur organisasinya, IMM adalah sebuah organisasi mahasiswa yang ideal. IMM menyatakan dirinya sebagai Gerakan Mahasiswa Islam. IMM menyatakan dirinya bergerak pada bidang Keagamaan, Kemahasiswaan, Kemasyarakatan. IMM memberi bekal kepada kadernya tentang Risalah Islam, Dakwah Islam, Filsafat Ilmu, Sosiologi, Politik, Wirausaha, dan Manajemen Organisasi.

IMM melalui struktur organisasinya memberi ruang gerak kepada anggotanya untuk mendalami Islam sekaligus menjalankan organisasi, menguasai spesialisasi kompetensi profesionalnya. 

IMM menampilkan dirinya sebagai cendekiawan-cendekiawan yang berpribadi, mempunyai keberpihakan dan pemberdayaan masyarakat-Dakwah serta memiliki kekuatan pemikiran-wacana dan analisis sosial-politik Gejolak pemikiran dilakangan kader IMM secara umum terfragmentasi ke dalam dinamika pemikiran kaum muda Muhammadiyah ataupun pemikiran islam secara umum. Sehingga menyebabkan IMM bercorak pemikiran yang beragam (plural). Hal ini terjadi karena dinamika pemikiran dan gerakan dikalangan mahasiswa cenderung diakletis. 

Maka, tidak menutup kemungkinan terjadinya persentuhan-persentuhan pemikiran kader IMM dalam dinamika pemikiran yang sedang bergejolakdengan beragam derivasinya tersebut. Akibatnya, tentu saja berpengaruh pada kepada karakter dan corak gerakannya, bisa berdampak positif atau negatif.

Corak pemikiran kader Imm tersebut baik secar individu maupun secara organisasi dapat dilihat dari dua cara, yakni : pertama, refensi bacaan yang mempengaruhi alam fikirannnya, dari intern organisasi atau dari luar organisasi. Kedua, adalah dengan mengetahui tokoh atau sosok yang mempengaruhinya, sebab dari tokoh tersebut ia bisa mengembangkan kreativitas pemikirannya.

Hadirnya sosok intelektual muda dari rahim IMM seperti Ahmad Norma Permata, Pradana Boy ZTF, Ahmad Najib Burhani, Piet Hisbulah Khaidir, Sukidi Mulyadi, Zakiyudin Baydhowi, Pramono U tantowi, Zuly Qodir, Ahmad Fuad fanani, Fajar Riza Ul-haq, Fauzi Fashri, Agus Purwanto, Abdul Halim Sani, Azaki Khoiruddin memberikan oase pemikiran baru dalam tubuh IMM dan muhammadiyah. 

Akan tetapi pemikiran dari pemikir senior seperti prof.Amin Rais, Prof. Din Syamsuddin, Prof yunahar ilyas, prof. Sudibyo markus, rosyad sholeh dan Abdul Mu’ti juga masih dijadikan referensi oleh kader IMM, pemikiran mereka sering dijadikan rujukan karena nama-nama mereka begitu popular di kalangan Muhammadiyah, walaupun sebenarnya ada sosok unik lain yaitu Prof.Dr. Abdul hadi, WM yang mana beliau adalah budayawan senior sekaligus salah satu pendiri IMM (khususnya di UGM) dan budayawan Slamet Sukirnanto. 

Selain yang disebut diatas, sebenarnya masih banyak intelektual dari IMM yang memang namanya kurang begitu menggaung di kalangan aktivis IMM, sebut saja Prof. Yahya A Muhaimin, prof. Marzuki usman, Prof. Yunan Yusuf, Prof Johni najwan, prof. Suyatno, Prof. Bambang Marsono, Prof. Bambang Sudibyo, Prof. Qomari Anwar, Prof. Irwan Aqib, Prof gagaring pagulung, prof. Idrus Andi Paturusi, Prof. Musafir Pababbabari, Prof. HM. Sirri Dangga, Prof. Ambo Asse, Prof. WR Hendra Saputra, Prof. Budu, dls. Dalam banyak hal. Pemikiran-pemikiran mereka  sering dijadikan rujukan.

Melihat data diatas, kita melihat bahwa meraka semua itu adalah hasil didikan IMM pada masa lalu. Tantangan yang dihadapi IMM saat ini tentunya lebih berat lagi dimana pada masa kini banyak kader yang lebih tertarik pada dunia politik praktis, proyek-proyek, yang intinya bermuara pada materi (uang). Di saat yang sama, sangat sedikit sekali kader yang benar-benar konsentrasi pada dunia intelektual. 

Ada hal yang sedikit menggembirakan, di antara ribuan aktivis IMM, masih ada seklumit aktivisnya atau alumninya yang masih setia berada di jalur perjuangan intelektual. Hal itu bisa dilihat dari adanya wadah intelektual  yang dirikannya, diantaranya adalah MIM (Madrasah Intelektual Muhammadiyah) dari Yogyakarya, Baret Merah dari Sukoharjo, Paguyuban Srengenge dari Blitar, Resist dari malang, baitul Hikmah, Akademos,  JIMM, dll. Semuanya itu adalah wadah-wadah untuk menyalurkan hasil pemikiran kader muda muhammadiyah khususnya IMM.

Bila wadah-wadah kecil itu benar-benar dirawat, maka gerakan kecil untuk membangkitkan kembali sisi inteluaktual IMM itu akan tercapai. Dari riak-riak kecil akan menjadi gelombang yang dasyat.

“kitalah cendekiawan berpribadi” sepatutnya tidak hanya diteriakkan dalam nyayian, akan tetapi benar-benar diwujudkan. IMM memang perlu mendiasporakan kadernya di segala lini, namun sisi intektualnya jangan benar-benar ditinggalkan. Sejatinya semuanya itu dalam rangka untuk mencapai tujuan Muhammadiyah.


(Khabib M. Ajiwidodo)
Blitar 16 januari 2018

Tidak ada komentar