Paguyuban Srengenge yang “dimuseumkan” Waktu




Oleh Ahmad Fahrizal Aziz

Seringkali gerakan kultural dianggap sebagai penyimpangan, apalagi jika itu melekat pada sebuah organisasi, yang senyatanya menawarkan posisi struktural. Kenapa misal, tidak berada di struktural saja? Ini sama dengan membuat perkumpulan dalam perkumpulan, atau bisa juga disebut memanfaatkan kebesaran nama ormas demi idealisme sempit.

Akan tetapi, anggapan tersebut bisa sebaliknya.

Sebuah ormas yang usianya puluhan tahun, telah melalui beberapa generasi, Bahkan menyatu dalam denyut nadi kehidupan masyarakat. Karenanya sering mengikat. Seperti, ketika ada pasangan suami istri yang aktif dalam ormas tersebut, anaknya mau tidak mau akan terikat, entah dengan sebutan kader biologis atau kader kultural.

Atau misal, ketika seseorang berada di suatu wilayah yang sebagian besarnya menganut ideologi ormas tertentu, baik dalam ibadah maupun amaliah, pasti juga akan terikat. Meskipun yang bersangkutan tidak aktif sebagai pengurus struktural ormas itu.

Apalagi, jika ormas tersebut memiliki sekolah atau lembaga lain yang membuat banyak orang—dalam waktu tertentu—menghabiskan kesehariannya di lembaga milik ormas tersebut. Tentu akan ada keterikatan secara langsung, sebab pada akhirnya ormas tersebut akan menjadi bagian integral dalam kehidupannya.

Seiring waktu, seiring semakin kompleksnya kebutuhan dalam sebuah ormas, kemudian lahir organisasi otonom yang membagi dari jenjang usia, pendidikan atau jenis kelamin, untuk mewadahi potensi kader. Meski hal semacam ini sempat dikritik oleh tokoh sekelas Kuntowijoyo.

Namun pada akhirnya, organisasi otonom pun juga tumbuh menjadi entitas tersendiri, yang kuat dan berjejaring. Meski disisi lain menimbulkan gesekan, friksi, sebab perbedaan sikap dan orientasi. Namun payung ideologi ormas tersebut tetap menjadi pengikat, dan mungkin kebanggaan tersendiri.

Gerakan kultural, termasuk Paguyuban Srengenge di dalamnya, atau perkumpulan tanpa bentuk yang mungkin banyak terserak di dalam ormas besar seperti Muhammadiyah, adalah bagian dari lingkaran besar ideologi yang mestinya tidak dipandang sebagai penyimpang, namun penyeimbang atau pengait.

Bahkan, bila pada akhirnya ada kader yang terlibat dalam politik, ia bisa menjadi pengait, bukan malah dilepaskan. Sebab kekuatan kultural itu jauh lebih besar, ketimbang kekuatan struktural, namun perlu juga dipahami jikalau basis kultural tidak akan ada, kalau tidak ada struktural.

Keduanya sebenarnya saling mengisi, dan disatu sisi mungkin juga saling membutuhkan. Kader-kader kultural yang tidak berada di struktural, bukan berarti tidak mencintai ideologinya, namun ia berjuang dalam fase lain. Kader-kader politik yang selama ini dianggap sering memanfaatkan suara Muhammadiyah, namun pada sisi lain turut serta membantu proses birokratik bahkan politik untuk urusan amal usaha Muhammadiyah misalkan.

Amal usaha pada akhirnya juga menjadi corong dakwah, bahkan sumber dana, termasuk dana untuk menolong fakir miskin, sampai dana untuk kegiatan organisasi. Masjid Muhammadiyah yang makmur pun juga ditopang oleh para jamaah, yang tentu tidak kesemuanya pengurus struktural, melainkan kader kultural atau bahkan simpatisan.

Termasuk dalam bidang kewirausahaan, akan menjadi nilai plus ketika ada pengurus memiliki kemampuan ekonomi yang baik, sekalipun jatuh bangunnya tidak dibantu Muhammadiyah, dan bahkan lebih sering menyumbang untuk Muhammadiyah. Tentu ini sangat membanggakan dan mengharukan. Meski secara alamiah, pengurus Muhammadiyah tentu akan berusaha menghargainya, meski dengan keterbatasan yang ada.

Gerakan-gerakan kultural dalam bidang yang lain, tentu juga akan memberikan dampak, baik langsung atau tak langsung, baik cepat atau lambat. Sehingga gerakan kultural bisa dirangkul sebagai penguat ideologi, bukan malah dianggap penyimpang. Sebab buat apa jadi penyimpang, kalau toh diluar struktur?

Paguyuban srengenge mulanya begitu, mereka yang juga sebagai perintis berdirinya IMM Blitar, salah satu ortom resmi Muhammadiyah. Sehingga kader-kader mahasiswa tidak lagi berserak ke yang lain, meski tetap saja ada yang begitu. Namun semua itu adalah pilihan, tidak bisa diinstruksikan. 


Juga pada akhirnya, srengenge menjadi bahan bakar tambahan menyemarakkan kajian-kajian, pengayaan wacana, baca tulis, meski dengan langkah terengah-engah. Sebelum pada akhirnya terbentuk Fokal (Forum Keluarga Alumni) IMM, yang sebagaimana tradisi, lebih berorientasi pada jejaring politik.

Gerakan kultural semacam ini memang banyak di kota besar lainnya, di Malang dan Surabaya, atau Jogja dan Ciputat. Bahkan tetangga Kota kita, Tulung Agung, yang bahkan menjelang satu dasawarsa. Srengenge baru 2 tahun berjalan, namun energi sudah menipis.

Senin lalu, ketika muncul tulisan berjudul “Pembubaran Paguyuban Srengenge”, banyak pihak yang menyayangkan, terutama menyayangkan nama perkumpulan yang sudah bagus. Sebenarnya ada beberapa yang ingin menggunakan nama Paguyuban Srengenge, namun terlambat. Setelah search di google, ternyata sudah ada, dan itu di Blitar.

Sempat ada yang bertanya, bagaimana misalkan ada yang ingin meneruskan gerakan ini dengan nama yang sama?

Memangnya ada? sebab ini bukan gerakan profit, tidak ada keuntungan materi yang di dapat. Bahkan bisa sebaliknya, selama ini website termasuk jaringan internet untuk menerbitkan tulisan-tulisan, didanai sendiri. Meski terbilang murah.

Namun, nama Paguyuban Srengenge terlanjur ada. Website dan sosial medianya sudah terlanjur menyebar, meski sebagian tidak akan bisa lagi diakses, terutama website www.srengenge.id . Akun youtube, blog dan fanspage facebook mungkin masih bisa di akses.

Pada akhirnya, nama tersebut akan dimuseumkan oleh waktu, sebagai sebuah entitas atau perkumpulan yang pernah ada. Akan menjadi portofolio, napak tilas, dan sejarah hidup tersendiri. Perlahan juga akan dilupakan, meski tak semua orang pernah mengingatnya. []


Blitar, 28 Desember 2017
Di Penghujung tahun yang sendu

Tidak ada komentar