PKI dan Takhayul Politik



Oleh : Nurbani Yusuf

Ada berbagai opini bersangkut PKI. Sebagian beranggapan bahwa PKI itu fiktif atau hantu. Kumpulan para orang panik dan paranoid. Sebagian lagi beranggapan PKI itu nyata. Musuh paling berbahaya. Laten dan mematikan. Kenapa disebut laten karena PKI adalah ideologi dengan pengikut paling militan.

Sejarah mencatat bahwa PKI itu ada. Pernah menjadi konstentan Pemilu '55. Dan masuk tiga besar, setelah PNI dan Masyumi. Diakui bahwa PKI cepat merakyat karena program-program yang ditawarkan langsung bersentuhan dengan kebutuhan praktis rakyat kecil. Semisal: bagi-bagi tanah kepada petani miskin, kemudahan lapangan kerja dan keadilan kumulatif: sama rata-sama rasa yang memikat banyak orang.

PKI adalah partai alternatif melawan kemapanan. Tak heran dalam waktu singkat PKI menyalib partai-partai besar yang didukung mayoritas. Andai tak ada Gestapo mungkin PKI berpeluang menjadi partai penguasa. Inilah yang menakutkan. Maka berbagai cara dilakukan untuk membendung PKI kembali bangkit.

*
Akan halnya peristiwa penghianatan PKI yang kemudian lazim disebut G 30 S PKI. Ada silang sengkarut yang sulit di urai. Sebagian beranggapan PKI adalah pengkhianat negara dengan membunuhi beberapa jendral angkatan darat untuk merebut kekuasaan. Sebagian lagi beranggapan G 30 S PKI adalah kurban yang disasar propaganda orde baru. Inilah soal peliknya. Yang kemudian menyeret kita pada pusaran konflik tak berkesudahan. Apapun bentuknya, peristiwa politik adalah skandal.

Sejarah memang tak pernah punya kemampuan menjelaskan peristiwa dengan obyektif. G 30 S PKI adalah nyata tak perlu dibantah. Menjadi bagian dari sejarah kelam yang tak boleh dilupakan meski tak persis sama dengan yang ada dalam cerita filmnya.

Demokrasi meminta jenis kurbannya sendiri, memilih yang dikehendaki. Demikian Plato memberi rumus. Ortega pun mengaku kalah dalam pemilu yang ia selenggarakan sendiri. Soekarno pun terpekur di rumahnya selama beberapa tahun. Kalah dan disepikan di tengah ramai.

*
Misteri yang bermula dari sas-sus itulah awalnya. Menjadi takhayul yang tak bisa dicandra dengan akal sehat. Dan itu berbahaya. Sebab takhayul politik tak butuh logika atau metodologi ilmiah. Takhayul politik hidup dan tumbuh ketika para politisi yang haus kekuasaan tak bisa berhenti mengendalikan ego. Takhayul hanya butuh pembenar dan justifikasi.

Sebagaimana proses pemilihan khalifah Abu Bakar as Sidiq juga menyisakan banyak misteri termasuk pengikut Syiah lawan politik yang tak bisa terima hingga hari ini.

Terbunuhnya para khalifah rasyidah (Umar, Ustman dan Ali) juga berasal dari takhayul politik. Para khalifah itu dibunuh sebab takhayul politik yang diciptakan dan disebar para pengikut. Dan PKI adalah takhayul politik yang terus menggiring opini publik. Dan kita hanya butuh pembenar. Sebab kebenaran tak perlu ditawarkan.


@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar
__
Sumber sekunder : nalarsehat.com

posted from Bloggeroid

Tidak ada komentar