Unsur estetika Al Qur'an



Dalam bukunya yang berjudul "the cultural atlas of Islam" Ismail al-Faruqi berpendapat Al-Qur'an memang mengandung unsur-unsur estetika. 

Unsur-unsur kekayaan estetika tersebut ialah:

Pertama : banyak ayat-ayat Al-Qur'an yang memiliki persamaan Rima dan sajak yang menjadikan ayat-ayat itu sangat indah dengan unsur puitrik yang sugestif.

Kedua : Al-Qur'an digubah menggunakan kata-kata dan frasa yang maknanya dapat disesuaikan dengan berbagai konteks persoalan hidup. Apabila digubah malah janggal. Penambahan dan pengurangan terhadap ayat-ayat itu akan merusak keindahan ungkapan dan makna.

Ketiga : setiap ayat atau frasa mengimbangi susunan bahasa ayat-ayat yang telah mendahuluinya. Itulah sebabnya susunan ayat dan bahasa Al-Qur'an dipandang rapi.

Keempat: kuas dan simpulan bahasa Al-Qur'an mengandung konsep atau gagasan serta unsur pengajaran yang berpengaruh besar kepada pembacanya. Disamping itu juga memberi kesan mendalam terhadap imajinasi pembacanya.

Kelima : susunan bahasa Al-Qur'an yang sempurna itu menjelmakan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai karya sastra yang tinggi , serta memberi Ilham bagi lahirnya bentuk-bentuk seni puisi , musik, dan seni suara yang unggul.

Keenam : gaya bahasa Al-Qur'an ringkas, tegas dan efektif, langsung menyentuh kesadaran pembacanya. 

Ketujuh : struktur teks Al-Qur'an tidak seperti karya sastra biasa. Dalam struktutnya Al-Qur'an mencampur aspek-aspek pembicaraan tentang peristiwa yang telah silam, sedang terjadi dan akan atau mungkin terjadi. Setiap ayat merupakan unit yang berdiri sendiri dan sekaligus saling berkaitan dengan unit yang lain.

Melekatnya unsur-unsur estetika dalam penyampaian ayat-ayat Al-Qur'an membuktikan bahwa risalah Islam mengakui betapa estetika merupakan bagian dari kehidupan spiritual manusia. (Red.S)

Tidak ada komentar