Bertemu Shamsi Ali, Inilah yang Diperbincangkan Pradana Boy

Srengenge - Dalam sebuah acara di New York, Amerika Serikat, Pradana Boy ZTF menemui tokoh Islam Amerika asal Indonesia, yaitu Imam Shamsi Ali. Pertemuan tersebut terjadi di Masjid Jamaica Moeslim Center.

Sebagai sesama warga Muhammadiyah, apa gerangan yang mereka perbincangkan? Pradana Boy pun menulis sebuah catatan berjudulu "Menelusuri Jejak Sang Imam" untuk mengenang pertemuan tersebut.

Selamat menikmati :

Menelusuri Jejak Sang Imam

DI suatu pagi hari, telepon di rumah saya berdering. Dari seberang terdengar suara seorang perempuan: “Salaamu laykum.” Begitulah cara salam itu diucapkan. Kemungkinan, salam itu terucap oleh seorang muallaf, bahkan bisa saja non-Muslim.

Setelah saya jawab, sang wanita itu melanjutkan: “Is this Brother Shamsi?”

“Yes, I am,” jawab saya.

“I have been looking for you for over three months,” lanjut penelpon itu.

“Oh... What can I do for you?” tanya saya lebih lanjut.

“Are you the one who recited the Qur’an at the Yankee Event three months ago?” tanyanya lagi.

“Yes, I was,” jawab saya singkat.

“Actually, I have been looking for you since then,” katanya.

Lalu perempuan ini bercerita panjang tentang apa yang terjadi ketika dan setelah mendengarkan lantunan ayat-ayat itu. Ia kembali berkata: “Walaupun ketika itu saya adalah seorang Kristen, tapi tanpa sadar, saya meneteskan airmata mendengarkan bacaan al-Quran itu.”

Ia menuturkan, setelah selesai mendengarkan ayat-ayat itu dia keluar ke jalan bertanya kepada orang tentang bacaan itu. Salah seorang yang sedikit memahami Islam memberitahu bahwa yang dibaca itu adalah “the Muslim Book” (bukunya orang Islam).

Sang wanita tadi bergegas menuju perpustakaan untuk meminjam “bukunya orang Islam itu.” Ternyata yang dimaksud adalah al-Quran. Singkat cerita, perempuan ini membaca al-Quran dalam terjemahan bahasa Inggris selama tiga bulan berturut-turut. Apa yang terjadi kemudian?

“Setiap malam saya pastikan membacanya sebelum tidur. Dan setiap kali saya selesai membaca al-Qur’an itu saya merasa puas dan tenang, bahkan saya tidur dengan nyenyak,” ia memberikan kesaksian dengan bersemangat.

Setelah tiga bulan membaca al-Quran itu pula, perempuan ini sudah tak mampu menahan keinginannya untuk bertemu dengan Muslim. Rupanya, tidak jauh dari rumahnya ada sebuah masjid kecil tanpa nama.  Setelah mencari ke sana kemari, seseorang memberitahu tentang keberadaan masjid itu. Ia pun datang ke mesjid itu dan mengikrarkan syahadat: “Asyhadu allaa ilaaha illa-Llah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.”

Itulah contoh sebuah sentuhan Rabbani melalui lantunan ayat-ayat al-Qur’an. Sungguh maha dahsyat kekuatan al-Quran itu. Di saat jiwa-jiwa tersentuh, maka niscaya akan bertekuk lutut ke haribaan Kebenaran-Nya. Allahu Akbar!
Memori 15 tahun silam di kota New York.
Imam Shamsi Ali,  Presiden Nusantara Foundation.

***

CERITA ini, dengan sedikit modifikasi bahasa, saya terima langsung melalui pesan Whatsapp dari Imam Shamsi Ali, pada suatu hari di New York, tepatnya pada tanggal 22 Juli 2017. Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan kursus singkat yang saya ikuti, New York merupakan kota yang harus dikunjungi. Empat hari saya menghabiskan waktu di New York, dan sebagian acara di kota ini bersifat informal. Maka saya ingin memanfaatkan waktu kunjungan di New York ini untuk bersilaturrahmi dengan seorang pemimpin Islam di New York asal Indonesia, yang tak lain adalah Imam Shamsi Ali.

Di kalangan Muslim Indonesia, nama Imam Shamsi Ali sangat populer. Tak hanya terkenal, Imam Shamsi Ali juga menjadi kebanggaan Muslim di Indonesia. Seorang putra bangsa Indonesia telah mengambil peran aktif dalam menyebarkan ajaran Islam di sebuah negara yang dikenal luas memiliki sikap kurang bersahabat dengan Islam, setidaknya secara politik. Sayapun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bersilaturrahmi dengan Imam Shamsi dan menimba pengetahuan serta pengalaman darinya.

Begitu tiba di The Roger Hotel di kawasan Manhattan, New York, saya segera menghubungi Imam Shamsi Ali dan menyatakan keinginan untuk bertemu. Tak lama berselang, Imam Shamsi menjawab pesan saya. Tak hanya mempersilahkan saya bertemu, Imam Shamsi bahkan akan menjemput saya ke hotel dan mengajak saya ke pengajian rutin warga Indonesia di kawasan Astoria, Queens, New York. “Saya mengisi pengajian di sini setiap bulan,” demikian Imam Shamsi menjelaskan.

Sayangnya, waktu kurang mendukung. Pada saat yang bersamaan, saya harus mengikuti kegiatan yang pada hari itu dipusatkan di kawasan Manhattan Bersejarah. Termasuk kegiatan yang harus saya ikuti pada hari itu adalah kunjungan ke Kantor Pusat Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Kepada Imam Shamsi saya berjanji akan menyusul saja ke lokasi pengajian yang bernama “al-Hikmah” itu. Namun, kepadatan acara yang saya ikuti menjadikan saya pun tak sempat menyusul ke pengajian tersebut.

Karena kondisi ini, disertai permintaan maaf, saya kemudian menawarkan kepada Imam Shamsi bagaimana jika saya berkunjung ke masjid yang ia pimpin. Berdasarkan bacaan yang pernah saya dapat, Imam Shamsi Ali memimpin sebuah lembaga yang bernama Islamic Cultural Centre (ICC), di kawasan Manhattan, New York. Setelah saya cari informasi tentang keberadaan lembaga itu, rupanya lokasi ICC tidak terlalu jauh dari tempat saya menginap. Tetapi tiba-tiba, “Saya sudah meninggalkan itu sejak 2013. Di sana sepuluh tahun,” begitu Imam Shamsi mengabarkan kepada saya. Sekarang, Imam Shamsi memimpin Masjid al-Ma’moor, yang berada di bawah lembaga bernama Jamaica Muslim Center, New York. “Sore atau malam di Jamaica Muslim Center,” tulis Imam Shamsi melalui pesan singkat di telepon genggam.

Sayapun bergerak. Mencari informasi tentang bagaimana menjangkau Jamica Muslim Center dengan transportasi umum. Ketika saya telah memperoleh informasi dari internet, Imam Shamsi juga memberikan informasi kepada saya. Karena informasi dari internet berbeda dengan dari Imam Shamsi, maka saya mengikuti petunjuk Imam Shamsi. Dari The Roger Hotel yang terletak di East 31 Street, saya bergerak ke West 34 Street. Di stasiun subway (kereta api bawah tanah) terdekat, saya segera mencari kereta jalur F. Setengah ragu, saya mengikuti petunjuk di stasiun itu. Tetapi begitu menemukan kata “Jamaica” di berbagai papan petunjuk, maka segera saya berlari ke jalur yang menuju kawasan Jamaica. Menunggu sekitar 15 menit, akhirnya kereta api pun datang.

Begitulah, dengan berbagai usaha ini saya akhirnya sampai di Masjid al-Mamoor, Jamaica Muslim Center New York. Tiba di depan Masjid al-Ma’moor, saya tidak segera masuk. Hari mulai senja, tetapi waktu Maghrib yang datang pada pukul 21.30, masih agak lama. Tetapi ada pemandangan yang membuat saya bertanya-tanya. Sejumlah pria dewasa, Muslim, dengan pakaian khas Muslim Asia Selatan, berkerumun di depan masjid. Sepertinya ada sesuatu yang tidak lazim. Pada akhirnya saya memutuskan masuk masjid. Di dalam masjid juga terdapat jamaah yang cukup banyak.

Hingga akhirnya waktu Maghrib pun tiba. Saya mencari-cari Imam Shamsi Ali. Di barisan depan, sepertinya Imam Shamsi tidak ada. Shalat maghrib berlangsung, tapi bukan Imam Shamsi sebagai imamnya. Usai shalat, sang imam yang sudah sangat senior itu lalu berdiri di mimbar. Terjawablah keheranan saya tadi. Seseorang dari anggota komunitas Muslim telah meninggal dunia, dan usai shalat Maghrib akan dishalatkan jenazahnya. Maka, sayapun bergabung dalam shalat jenazah itu. Usai shalat, jamaah bubar. Saya tetap mencar-cari Imam Shamsi. Tetapi tak juga saya temukan. Telepon genggam saya tidak terhubung dengan jaringan internet, sehingga saya tidak bisa menghubungi Imam Shamsi. Sejenak bingung, hanya termangu di depan pintu utama Masjid al-Ma’moor yang bisa saya lakukan.

Ketika jamaah semakin sepi dan semua orang telah keluar dari ruang shalat, saya tetap menunggu. Namun, tak juga menemukan Imam Shamsi. Tetapi, tiba-tiba seperti ada yang menuntun saya untuk melangkah keluar menuju pagar masjid. Saya melangkah. Persis di depan gerbang itu, rupanya Imam Shamsi terlihat sedang berbincang-bincang dengan beberapa jamaah. Segera saya hampiri dan saya mengenalkan diri. Imam Shamsi menyambut ramah. Rupanya Imam Shamsi tidak sendirian. Bersamanya ada dua orang Indonesia lain. Kedua orang yang usianya lebih muda dari Imam Shamsi ini ternyata imam di masjid-masjid Indonesia yang ada di beberapa kota di Amerika. Saya menduga, pastilah Imam Shamsi mendidik anak-anak muda itu menjadi aktivis dakwah Islam di Amerika Serikat sebagaimana dirinya.

Imam Shamsi kemudian mengajak kami makan malam di sebuah restoran cepat saji yang menyediakan makanan halal di kawasan Jamaica. Usai makan malam, kami singgah sejenak di rumah Imam Shamsi yang luas dan asri tak jauh dari Masjid al-Ma’moor. Saya berdiskusi tentang berbagai isu kontemporer dalam dunia Islam. Imam Shamsi menunjukkan kepada saya sebuah disertasi oleh seorang mahasiswa doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang membahas pemikirannya. Juga menonton lewat video, wawancanya tentang toleransi beragama, oleh sebuah stasiun televisi Singapura.

Tak lama kemudian, waktu Isya tiba. Saya kembali berjamaah di Masjid al-Ma’moor, dan kali ini dengan Imam Shamsi Ali sebagai imamnya. Bacaan al-Qur’an yang fasih dan merdu membuat shalat Isya malam itu demikian syahdu. Ada rasa haru yang tak bisa saya gambarkan. Bahwa di tengah masyarakat di mana Muslim minoritas seperti di New York, ternyata saya bisa merasakan kenikmatan ibadah bersama dengan saudara-saudara seiman. 

***

SETELAH pertemuan dengan Imam Shamsi Ali, secara kebetulan, saya menerima sebuah berita dari Bu Tatik, Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya. Berita itu cukup mengejutkan. Seorang calon senator Amerika Serikat dari Negara Bagian Alabama, Ray Moore menyebut Islam sebagai false religion atau agama yang salah. Menurut berita yang dikutip oleh berbagai media massa itu, Moore mengatakan hal tersebut untuk menjawab pertanyaan seorang perempuan yang hadir dalam pertemuan dengannya tentang hukum syari’ah di Amerika.

“Saya melihat dalam banyak berita tentang hukum Syariah dan umat Islam yang meminta waktu istirahat untuk menjalankan shalat... dan saya ingin mengetahui apa rencana Anda untuk mengatasi masalah seperti ini?” tanya perempuan itu. Tak lupa, penanya itu juga mengutip teori yang menyebut Syari’ah sebagai ancaman bagi sistem hukum di Amerika Serikat.

Menjawab pertanyaan itu, Moore berkata: “Agama yang salah seperti Islam, yang menganjurkan beribadah dengan cara begini atau begitu, sebenarnya bertentangan dengan apa yang diperjuangkan oleh Amandemen Pertama Konstitusi kita.” Pada intinya, Amandemen Pertama AS itu menyatakan bahwa Kongres tidak boleh menciptakan hukum yang mendukung pelaksanaan agama tertentu, maupun melarang kebebasan pelaksaan (ajaran) agama.

Sebagai Muslim, pernyataan-pernyataan seperti ini tentu menjadikan saya prihatin. Maka penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya sikap masyarakat Amerika pada Islam dan Muslim. Sebuah data yang dirilis oleh Lembaga Penelitian Brookings menyebutkan bahwa sikap positif masyarakat Amerika terhadap umat Islam mengalami peningkatan. Pada November 2015, jumlah responden yang memberikan pernyataan positif pada umat Islam adalah sejumlah 53 persen. Jumlah itu meningkat menjadi 58 persen pada Mei 2016 dan pada Juni di tahun yang sama justru meningkat menjadi 62 persen.

Penelitian yang sama juga menyebutkan bahwa sikap masyarakat Amerika pada Islam sebagai agama. Pada November 2015, sikap positif dinyatakan oleh sebanyak 37 persen responden, meningkat menjadi 42 persen pada Mei 2016 dan 44 persen pada Juni 2016. Terakhir, terhadap pernyataan apakah nilai-nilai Islam sejalan dengan nilai Barat, sikap positif ditunjukkan oleh 57 persen responden pada November 2015, meningkat menjadi 61 persen pada Mei 2016, dan 64 persen pada Juni 2016.

Sementara, pada sebuah laman lembaga penelitian PEW Research Center disebutkan: bahwa Muslim adalah komunitas beragama yang perkembangannya paling cepat di dunia ini. Pertumbuhan dan migrasi regional umat Islam, dikombinasikan dengan akibat yang terus berlangsung dari gerakan ISIS, serta sejumlah kelompok ekstremis yang melakukan tindakan kekerasan atas nama Islam, telah membawa umat Islam dan agama Islam ke arena utama perdebatan politik di berbagai negara. Tetapi, banyak sekali fakta tentang Muslim yang tidak diketahui di berbagai tempat ini, dan sebagian besar masyarakat Amerika –yang hidup di sebuah negara dengan jumlah penduduk Muslim yang relatif kecil—mereka menyatakan tahu sedikit atau tidak tahu sama sekali tentang Islam.

Dalam situasi seperti inilah, maka jejak perjuangan dakwah Imam Shamsi Ali menjadi menarik untuk dikaji dan diberikan perhatian khusus. Maka keterlibatan Imam Shamsi Ali dalam berbagai kegiatan dialog antaragama di Amerika sesungguhnya merupakan upaya konkret dalam menjembatani kecurigaan dan prasangka yang pada umumnya bersumber dari ketidaktahuan sebagaimana dinyatakan oleh PEW Research Center di atas. Dalam sebuah bukunya yang ditulis bersama seorang Rabi Yahudi Marc Schneier, Sons of Abraham: A Candid Conversation About the Issues that Divide and Unite Jews and Muslims, Imam Shamsi Ali menunjukkan betapa pentingnya membangun saling pengertian dengan didasarkan pada penetahuan.

Di sinilah sikap dan pilihan strategi Imam Shamsi Ali seringkali disalahfahami. Di tanah air sendiri, meskipun pengagum dan penganut pemikiran-pemikiran Imam Shamsi sangat massif, terdapat kelompok-kelompok tertentu yang tak sejalan dengan pemikiran Imam Shamsi oleh sebab pilihan strategi dialog tadi bisa saja dianggap sebagai “pengaburan” iman. Padahal, tidak demikian konteksnya. Situasi dan latar belakang politik Amerika telah mengharuskan pilihan itu diambil dalam upaya menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semua itu.

Amerika adalah satu konteks. Padahal, negara-negara yang memiliki sikap pada Islam seperti Amerika tidaklah sedikit. Maka, Shamsi Ali-Shamsi Ali baru dari berbagai generasi harus ditumbuhkan dari Indonesia. Ya, karena menjawab keraguan atas Islam tidak bisa dilakukan dengan sikap sentimen, bermusuhan, dan apalagi kekerasan. Sebaliknya, harus dilakukan dengan pendekatan etis atau akhlaqi, sehingga segala bentuk keraguan itu akan pudar. Menelusuri jejak Imam Shamsi Ali menjadikan kita memahami bagaimana Islam rahmatan li al-alamin itu harus dihadirkan. Dengan begitu, tanpa harus diajak, orang akan berbondong-bondong menengok Islam kemudian mengimaninya, sebagaimana kisah perempuan yang dikutip di awal tulisan ini. Kepada Imam Shamsi Ali, kita harus belajar.***

Pradana Boy ZTF
New York dan Charlottesville, 23 dan 27 Juli 2017

Tidak ada komentar