Jalan Ber-Muhammadiyah (Bag. 6)





Konsep Gerakan Saudagar (?)
 
oleh A Fahrizal Aziz
Kala berbincang dengan kader Muhammadiyah dari berbagai daerah, hampir selalu mengatakan jika ciri khas Muhammadiyah Blitar (Kabupaten) adalah kumpulan para Saudagar. Apalagi, saya—yang bukan saudagar ini—juga dimasukkan sebuah group WA Jaringan Saudagar Muhammadiyah.

Awalnya saya kira group tersebut berisikan para saudagar Muhammadiyah se-Kabupaten Blitar, ternyata tidak begitu. Mungkin banyak juga yang bukan saudagar, sehingga mengirim sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan ke-saudagaran. Sementara saya hanya viewer saja.

Group tersebut lebih banyak digunakan untuk menawarkan produk-produk hasil produksi warga Muhammadiyah, atau sekedar mereka yang reseller. Nah, mungkin ini lebih disebut lapak jual beli, belum disebut jaringan. Karena jaringan berarti terhubung satu sama lain dan memiliki keterikatan.

Saya tentu tidak punya ototritas apapun untuk berbicara terkait hal ini, karena saya bukan saudagar. Barangkali hanya sekedar komentar bebas, selaku bagian dari warga Muhammadiyah. Namun iklim ke-saudagaran terasa begitu kuat di kalangan Muhammadiyah sendiri. Sampai-sampai, ketika hendak menerbitkan website blitarmuID, Pak Basori selaku Ketua MPI PDM Kab. Blitar berharap point besar pemberitaannya tentang wirausaha.

Pada awal puasa lalu,  MPI bertemu Majelis Ekonomi untuk membahas sebuah brand usaha khusus warga Muhammadiyah. Saya sebenarnya diundang, namun karena bertepatan dengan kajian ramadan bersama DPP IMM di Masjid Attaqwa, saya pun datang belakangan.

Dalam hati saya bertanya, kenapa MPI yang tupoksinya di kepustakaan dan Informasi sampai harus ikut membahas soal wirausaha? Apa sekiranya, Majelis Ekonomi, dan mungkin di support oleh MPKU, MPS, MPM dan LazisMu tidak cukup?

Atau mungkin Majelis Ekonomi menggandeng para saudagar Muhammadiyah yang siap berkolaborasi? Namun lagi-lagi itu hanya sekedar pertanyaan, lagipula saya hanya “pembantu umum” di Majelis-majelis, jadi ya tidak punya hak apapun untuk ikut memberikan keputusan.

Namun hal tersebut bisa dimaklumi, karena tokoh-tokoh Muhammadiyah Blitar, terutama Pak Sis yang memimpin Muhammadiyah Blitar selama tiga periode (satu periode ketika belum terjadi pemekaran Kota dan Kabupaten) adalah seorang saudagar sukses dengan berbagai unit usaha. Salah satu yang terkenal ada di bidang peternakan.

Keberhasilan Pak Sis juga diikuti oleh anak-anaknya, termasuk Pak Hidayat yang kini menjadi ketua PDM Kab. Blitar. Situasi ini yang agaknya menjadi motivasi tersendiri bagi sebagian besar warga Muhammadiyah Kabupaten Blitar untuk juga mengikuti jejak menjadi Saudagar.

Sampai-sampai dulu beberapa teman berbisik, bahwa satu-satunya program PDM yang kemungkinan disambut dengan antusias, adalah program pemberdayaan kewirausahaan. Program lain mungkin diminati, namun tidak sebanyak program wirausaha, dan apalagi program media dan kepenulisan?

Saya yang sedang tidak bergelut di bidang wirausaha, kadang kala agak canggung juga. Misalkan, dulu saya membantu MPI harapannya agar muncul website, muncul tim penulis, atau bahkan tim Jurnalis. Namun agaknya yang seperti itu tidak begitu laku.

Namun jika kita peras lagi arti dari jaringan pengusaha, atau katakanlah saudagar-saudagar Muhammadiyah di Kabupaten Blitar, sebenarnya tidak bisa juga disebut masif. Memang ada beberapa saudagar besar dengan omzet diatas rata-rata, yang masuk kategori kaya atau sangat kaya.

Namun makna jaringan pengusaha tersebut, agaknya masih belum bisa dilihat secara utuh. Minimal dari pandangan saya sebagai yang bukan pengusaha ini. Padahal citra itu sudah kadung melekat di PDM Kab. Blitar. Hal-hal lain diluar itu, tidak begitu lagi dilihat, termasuk gerakan literasi yang nantinya mungkin akan digagas oleh MPI.

Mungkin saja, kader-kader yang non pengusaha akhirnya tidak terlalu bisa beraktualisasi, karena ciri khas Muhammadiyah Blitar sudah dikunci sebagai kumpulan saudagar. Sementara, sebagai sebuah sistem atau jaringan, belum juga terlalu nampak.

Bukan tidak mungkin juga kader-kader dalam bidang lain, misalkan Politik juga kurang bisa beraktualisasi, juga kader Da’i yang kedepan memiliki tugas ceramah di Masjid-masjid. Belum lagi yang gawat, jikalau aspek kaderisasi tidak terlalu juga diminati.

Mungkin akan minus kader dalam bidang-bidang tertentu, minus kader yang mengelola amal usaha dikarenakan terkendala profesionalitas, terutama karena latar belakang pendidikan. Misalkan guru minimal harus s1, sementara kader Muhammadiyah banyak yang tidak melanjutkan s1 bidang Pendidikan. Akhirnya sangat mungkin pengelola Lembaga Pendidikan Muhammadiyah kadepan justru bukan kader Muhammadiyah.

Atau misalkan pengelola rumah sakit, khususnya tenaga perawat. Tenaga perawat tentu harus lulusan keperawatan. Tidak serta merta karena kader Muhammadiyah, lalu dicomot jadi perawat di rumah sakit milik Muhammadiyah sendiri. Atau mungkin pula krisis calon-calon dokter, dan apalagi direktur rumah sakit nantinya juga dokter.

Masalahnya, pengelola AUM terkadang powernya lebih kuat ketimbang pengelola Muhammadiyah, meskipun Muhammadiyah lah yang mendirikan AUM tersebut.

Sementara iklim dan konsentrasi lebih menguat pada kewirausahaan, sementara sisi lain minus sekian derajat. Masalahnya, bidang kewirausahaan yang selama ini digaungkan, juga belum nampak merata.

Setidaknya, jika dibandingkan dengan gerakan kewirausahaan lain di Blitar, seperti sedulur UKM Blitar raya yang baru berusia 365 hari, jaringan saudagar di Muhammadiyah Kab. Blitar belum begitu nampak. []

Blitar, 15 Ramadan 1438 H
A Fahrizal Aziz

Tidak ada komentar