Penghayatan



Keahlian datang dari orang-orang yang menghayati posisinya. Tidak harus ahli dalam ilmu tingkat tinggi, yang untuk mendapatkannya harus menghabiskan waktu bertahun-tahun di Universitas. Keahlian sederhana, semisal membuat nasi goreng yang enak, bisa memunculkan penghormatan/respect tersendiri.

Namun tidak mungkin orang bisa menjadi ahli jika tidak menghayati apa yang sedang ia kerjakan. Penghayatan tersebut membuatnya tekun dan produktif, sehingga membuatnya bisa berkarya diatas rata-rata, dibandingkan mereka yang berkecimpung dalam bidang yang sama, namun kurang menghayati.

Warung yang penjualnya ahli meracik makanan, akan diburu banyak orang, makanannya akan diperbincangkan. Orang akan memberikan penghargaan atas “karya” yang telah dibuat. Hal itu karena penjual benar-benar menghayati pekerjaannya, sehingga ingin selalu menyajikan yang terbaik bagi pembeli.

Penghayatan juga bisa pada bidang yang lain, semisal bidang pelayanan. Baik sebagai pejabat publik, atau profesi lain dibidang jasa. Orang yang menghayati posisinya sebagai pelayan, akan berusaha bagimana pelanggan bisa mendapatkan kepuasan atas pelayanan yang ia berikan. Keseriusan dan dedikasi itu akan dikenang banyak orang. Orang merasakan dampak dari pelayanan yang diberikan.

Termasuk penghayatan dalam bidang ilmu pengetahuan. Ada dosen/akademisi yang produktif menghasilkan karya ilmiah, baik berupa penelitian atau gagasan. Mereka yang menghayati posisinya sebagai akademisi, akan rajin memperdalam pemahaman untuk kemudian ditularkan ke publik, sebagai sebuah petunjuk/pedoman.

Kita akan respect dengan orang-orang yang menghayati profesi atau posisinya dalam kehidupan. Begitu pun sebaliknya, kita akan kehilangan rasa hormat kepada orang-orang yang tidak menghayati posisinya, bahkan cenderung menyalahgunakan. Misalkan, pejabat publik yang melakukan korupsi. Kita tidak akan menaruh hormat sedikitpun kepadanya, meski jabatannya tinggi, meski uangnya banyak.

Penghormatan, kekaguman, lahir dari sejauh mana orang itu menghayati posisinya dan berjalan pada rel yang seharusnya, sehingga memberikan dampak dan manfaat bagi banyak orang.

Mungkin ia hanya seorang pembuat kue. Tapi dengan ketekunan, keinginan untuk menyajikan kue yang enak, dan terus menerus mencoba sampai akhirnya bisa menciptakan kue terbaik. Kita menaruh rasa hormat atas dedikasinya dalam bidang itu.

Barangkali juga hanya seorang petugas kebersihan, namun ia bekerja penuh dedikasi. Menghayati perannya sebagai petugas kebersihan, yang harus memastikan lingkungan kota menjadi bersih. Ia melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati, ibaratnya tak membiarkan satu helai sampah pun tersisa. Orang seperti ini membuat kita menaruh rasa hormat mendalam, terlepas apapun profesinya.

Karena penghormatan itu tidak bergantung pada seberapa tinggi pangkat jabatan, tidak bergantung pula pada seberapa banyak harta yang dimiliki. Tapi pada dedikasi, imbas positif dari kehidupan yang ia hayati secara sungguh-sungguh. []

Blitar, 13 April 2017
A Fahrizal Aziz

Tidak ada komentar