Sjafruddin Prawiranegara, Pejuang Islam yang Terlupakan





Sjafruddin Prawiranegara termasuk salah satu pejuang Islam yang banyak memberikan kontribusi pada Indonesia. Sayang, sosoknya jarang sekali dibicarakan, jika dibandingkan dengan tokoh lain seperti M. Natsir dan Agus Salim. Bahkan di sekolah-sekolah, tidak banyak siswa yang mengenal. Lalu siapa dan apa sumbangsih Sjafruddin yang patut kita ingat?

Sjafruddin Prawiranegara merupakan sosok penting dalam perjuangan awal negara Republik Indonesia. Baik dalam aspek pemikiran dan pergerakan Islam, terlebih dalam aspek Politik dan Ekonomi.

Beliau merupakan orang dekat Sutan Syahrir, sampai kemudian mejabat sebagai Menteri Keuangan pada kabinet Syahrir. Meski demikian, ketika Syahrir mendirikan PSI (Partai Sosialis Indonesia), Sjafruddin lebih memilih berafiliasi dengan Partai Masyumi, yang menunjukkan betapa kuat idealismenya dalam dakwah Islam.

Sebelum itu, Sjafruddin adalah Presiden Direktur terakhir De Javasche Bank, yang merupakan Bank sentral yang didirikan Jepang dan mengedarkan mata uang Jepang dalam transaksi ekonomi. Sampai kemudian ia berfikir bahwa Indonesia sebagai negara merdeka perlu memiliki mata uang tersendiri.

Ia pun menggagas berdirinya Bank Indonesia dan menerbitkan rupiah sebagai mata uang pengganti yen. Sjafruddin Prawiranegara merupakan pendiri sekaligus direktur pertama Bank Indonesia. Gagasannya tersebut membuat Indonesia memiliki mata uang tersendiri dan memiliki Bank sentral tersendiri untuk mengatur ekonominya.

Peran penting lainnya, ialah di tahun 1947, ketika Belanda melancarkan agresi militer II di Yogyakarta, Soekarno-Hatta kemudian ditangkap dan diasingkan ke Bangka. Kondisi Indonesia sebagai negara tengah diujung tanduk. Kondisi itu memungkinkan Belanda untuk kembali menguasahi Indonesia.

Namun Sjafruddin Prawiranegara kemudian melakukan diplomasi dalam sidang ECAFE di Manila dan menyakinkan dunia Internasional bahwa Indonesia sebagai negara masih eksis. Kala itu, dia menggantikan posisi Soekarno sebagai Pemerintah, dengan menyebutnya PDRI (Pemerintah Darurat Negara Republik Indonesia).

Sementara gerilya melawan Belanda gencar dilakukan oleh Jenderal Soedirman yang kala itu mejabat sebagai Panglima TKR (sekarang TNI) untuk menunjukkan bahwa Indonesia sebagai negara merdeka masih memberikan perlawanan. Diplomasi yang dilakukan Sjafruddin tersebut membuat Belanda gagal menguasahi Indonesia, sampai kemudian tapuk pimpinan kembali ke tangan Soekarno.

Sejarah inilah yang harusnya tidak boleh dilupakan oleh anak bangsa, betapa besarnya sumbangan Sjafruddin dalam proses mempertahankan kemerdekaan, juga kiprahnya dalam bidang ekonomi dan politik. [red.s]

Tidak ada komentar