Piknik






Era sosmed memberikan keleluasaan bagi siapapun untuk berbagi, terutama berbagi foto. Sering kali beranda sosial media dipenuhi dengan foto-foto piknik. Di pantai, gunung, dan tempat hiburan lain. Menariknya, dengan bantuan aplikasi kamera, hasil potretan jadi nampak lebih indah.

Piknik sendiri bertujuan untuk menyegarkan pikiran, merefresh kembali jiwa yang penat karena rutinitas harian. Piknik bertujuan meminimalisir stres, dan memulihkan gairah untuk bekerja atau berkarya.

Kebutuhan akan piknik menjadi penting agar manusia lebih produktif, agar lebih bahagia menjalani kehidupan. Makanya, orang yang gampang mengeluh, mengumpat, atau marah, kerap disebut kurang piknik.

Tapi definisi piknik kemudian juga bergeser. Saya mengamati beberapa akun media sosial yang hampir tiap minggu mengunggah foto pikniknya, tentu dengan chapture yang menarik dan mungkin berbiaya mahal.

Keseringannya piknik tersebut ternyata tidak berkorelasi dengan kebiasaannya mengeluh. Hampir setiap hari, ia posting keluhan, umpatan, dll. Fenomena semacam itu terjadi pada beberapa orang. Sejenak kita pun merenung, lalu apa gunanya ia piknik tiap minggu?

Menurut teman saya yang memang konsen mengkaji psikologi, mengeluh dan mengumpat itu faktor kebiasaan, sementara kebahagiaan tidak selalu diukur dengan piknik. Saya pernah punya fikiran seperti itu.

Semisal begini, pola pikir keumuman orang ketika liburan, adalah berkunjung ke tempat-tempat wisata. Akhirnya di lokasi wisata terjadi penumpukan. Kemarin ada banyak orang mengumpat karena gagal berkunjung ke salah satu pantai terkenal di Malang selatan. Kemacetan sampai 10 km. Akhirnya mereka banyak menghabiskan waktu di jalan dengan perasaan kesal.

Pernah dulu muncul sindiran begini : kalau di kota besar, mereka stres karena terjebak macet ketika berangkat dan pulang kerja. Kalau pas liburan, mereka juga stres karena terjebak macet di lokasi piknik. Artinya berbeda suasana yang menyebabkan stres.

Pola pikir keumuman inilah yang dimanfaatkan para pegiat wisata untuk menaikkan tarif. Entah itu tiket masuk, harga makanan, biaya perjalanan, travel, penginapan, dll. Semua berawal dari pola pikir.

Juga, alasan kenapa piknik harus di tempat wisata, dan apa itu definisi wisata. Sesekali boleh kesana untuk lebih tahu dan menikmati suasana. Namun kalau terlalu ramai, maka bukan refreshing yang di dapat. Termasuk ketika pergi ke kolam renang, mengambilnya waktu dimana kemungkinan banyak orang datang kesana. Yang ada bukan renang, tapi berendam bersama.

Ketika saya mengutarakan pikiran semacam ini kepada kelompok diskusi kecil, salah seorang dari mereka nyeletuk begini : kamu mungkin tidak suka keramaian, tapi ada juga orang yang justru mencari keramaian. Meski kamipun sepakat tujuan strategis dari piknik itu sendiri.

Soal tempat dan waktu romantis misalkan, beberapa pasang sejoli sampai mencarinya ke ujung dunia, baru kemudian ia menyadari jika tempat paling romantis adalah kamar tidur, waktu malam jelang tidur, bersama kekasih hatinya. Maka ada yang bilang, pengantin baru serasa piknik setiap malam.

Makna piknik kemudian menjadi beragam, jika melihat dari tujuannya. Tempat wisata menyajikan suasana, mengumpulkan orang-orang dengan fikiran bahagia karena menuju tempat yang menurut mereka mampu mencairkan kepenatan. Tapi yang menyajikan itu tidak hanya tempat wisata.

Kata pepatah bijak kaum traveler, yang terpenting dari sebuah perjalanan bukanlah tujuannya, tapi bagaimana proses perjalanan itu sendiri. Orang bepergian dari Malang ke Bandung bisa kurang 1,5 jam dengan pesawat terbang, tapi akan berbeda rasa jika melaluinya dengan kereta atau kendaran darat non mainstream.

Begitupun berkunjung ke suatu tempat, seindah apapun tempat itu, rasa bergantung dengan siapa kita menghabiskan waktu disana. Karena bagaimanapun, percaya atau tidak, bahagia itu bukan faktor dimana, tapi bagaimana hati dan fikiran kita menempatkannya.

Dua kali saya pernah mengunjungi tempat wisata yang sama. Tapi yang kedua berbeda dari yang pertama. Saya mencari-cari apa yang berbeda. Ternyata bukan tempatnya, tapi kosongnya bangku sebelah, yang dulu diduduki oleh seseorang yang sekarang tidak ada lagi disini. Ah, dasar melankoli. []

1 Januari 2017
A Fahrizal Aziz

Tidak ada komentar