Islam Syariat

ISLAM SYARIAT



Judul lengkapnya adalah ISLAM SYARIAT - Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia, adalah sebuah buku yang ditulis oleh Dr. KH. Haedar Nashir, M. Si yang merupakan hasil dari penyempurnaan dari buku sebelumnya yang berjudul Gerakan Islam Syariat: Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia yang pernah diterbitkan pada tahun 2007, yang buku itu sendiri sejatinya adalah hasil desertasi penulis (Dr. Haedar Nashir) untuk meraih gelar doktor bidang studi Sosiologi di Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta.

Dengan sedikit perubahan struktur penulisan dan penambahan beberapa materi guna penyempurnaan pembahasan, pada bulan Mei 2013, buku ini kembali hadir dengan judul Islam Syariat - Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan Bandung.

Setelah gerakan-gerakan Islam mainstream di nusantara yang selama ini bertindak sebagai arus-tengah dinilai gagal menegaskan identitas, posisi, dan orientasi perjuangan Islam di tengah kuatnya intervensi politik global, liberalisme, dan sekulerisme. Dalam pada itu muncullah kelompok-kelompok yang dengan percaya diri mereka menegaskan identitas, posisi, dan orientasi perjuangan Islam dengan menyuarakan kembali perjuangan melawan kuatnya intervensi politik global, liberalisme, serta sekulerisme yang dalam buku ini penulis menyebutnya dengan "Gerakan Islam Syariat".

Gerakan "Islam Syariat", baik ditengah masyarakat nusantara sendiri maupun di kancah Internasional, sebenarnya bukan wacana yang baru. Jauh sejak runtuhnya khilafah Turki Utsmani pada tahun 1924, yang itu menandai runtuhnya sentralisasi, legalisasi serta formalisasi dalam penerapan Syariat Islam, telah banyak bermunculan gerakan-gerakan yang bergerak dalam upaya-upaya untuk mengembalikan sentralisasi, legalisasi serta formalisasi dalam penerapan Syariat Islam tersebut.

"Inilah satu-satunya buku yang mengungkap secara ilmiyah konsep, ideologi, dan gerakan Islam Syariat di Indonesia. Dengan telaahan yang melintasi, bergerak dari rentang satu dengan rentang lainnya sehingga diperoleh gambaran dan analisis yang lengkap. Dimulai dengan gerakan DII/TII di era silam, hingga era reformasi yang mengalami reproduksi dan mewujud dalam gerakan HTI, KPPSI, MMI, dan PKS. Oleh karena itulah, buku ini layak menjadi rujukan bagi siapapun yang berminat mengkaji Islam di Indonesia." Begitu tertulis dalam catatan sampul dalam buku ini. 

"..... Buku ini memberi peringatan terhadap masa depan eksistensi Muhammadiyah dan NU yang selama ini membanggakan diri sebagai arus-utama Islam moderat di Indonesia. Haedar mengatakan:

' Kehadiran gerakan Islam syariat dengan karakter dan orientasi yang bercorak "Salafiyah Ideologis" tersebut merupakan tantangan bagi kelompok gerakan Islam moderat (arus tengah) atau arus-utama dan kelompok-kelompok masyarakat lain dalam membangun keseimbangan-keseimbangan baru ditengah kecenderungan yang serba-ekstrem, baik dalam kehidupan keagamaan maupun kebangsaan. '

Dr, KH. Haedar Nashir, M.Si (Penulis)

Pernyataan ini sangat relevan dengan keprihatinan saya mencermati adanya gejala kebuntuan inovasi dan kreativitas dari kalangan Muhammadiyah dan NU menyikapi perkembangan yang ada. Gagasan Islam dan keindonesiaan yang menjadi platform bersama kedua organisasi tersebut, setidaknya tercermin dari ikrar keduanya menerima Pancasila sebagai ideologi negara, seakan kehilangan daya tawarnya. Sebaliknya, fenomena yang disebut Gerakan Islam Syariat menyeruak saat masyarakat mengalami disorientasi.

Secara pribadi saya sangat risau dengan adanya kecenderungan mengeksploitasi Muhammadiyah dan NU untuk tunggangan politik yang visinya masih sebatas halaman rumah. Kondisi ini sangat merugikan masa depan kedua kekuatan sipil Islam tersebut, bisa rapuh dan lumpuh. Saya sangat berharap kehadiran buku ini dapat memotivasi Muhammadiyah, NU, dan kelompok-kelompok Islam moderat lainnya untuk terus serius mengkaji ulang orientasi  dan wawasan keberagamaanya untuk menyuarakan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan dalam satu napas, Islam Indonesia.... ", begitu kata pengantar  Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, M.A. dalam buku ini. (Red.S)

Tidak ada komentar