Sensor dan Imajinasi Seksual


gambar : Ilustrasi (Istimewa/www.stuff.co.nz)



Jika sekarang diperintah, coba bayangkan perempuan telanjang! Otak akan langsung mengimajinasikan hal tersebut. Bahkan dengan bahasa yang melarang pun, misal ada yang bilang “Jangan fikirkan kucing!”, gambar kucing secara otomatis hadir dalam benak kita. Meski dibilang “jangan”. Otak manusia nyatanya menyimpan banyak data yang mampu mengimajinasikan itu semua.

Jikalau kasus atlet renang yang diblur bagian tubuhnya, lalu apakah secara sendirinya akan mengurangi imajinasi seksual? dan bisakah otak melakukan sensor atas hal-hal fulgar yang ia temui? Misal ketika anda berkunjung ke pantai-pantai di Bali, maka pemandangan semacam itu seolah tak ada jeda. Masuk dalam memori, menjadi semacam “data baru”, tidak bisa dihapus, kecuali ada trouble pada otak seseorang. Tapi bisa di kontrol.

Maksud KPI yang melakukan sensor-sensor itu sebenarnya bertujuan baik. Untuk membatasi pandangan fulgar dari penonton televisi atau film. Sebenarnya tidak hanya bagian tubuh, tapi adegan atau visualisasi yang bisa menimbulkan traumatik. Misal adegan memukul, menampar hingga darah dan potongan tubuh manusia yang tercerai berai.

Tapi banyak pihak menilai jika itu terlalu over, apalagi untuk sebuah drama/film. Bahkan sampai patung pun disensor. Apakah begitu lemahnya daya pengendalian masyarakat kita, terutama kaum lelaki, sampai-sampai harus menerapkan aturan super ketat perihal sensor tersebut. Terlebih jika obyeknya adalah perempuan.

Toleran terhadap aurat Lelaki

Teman-teman pagiat perempuan pernah mengkritik betapa tidak adilnya aturan pembatasan terhadap tubuh perempuan, ketimbang tubuh lelaki. Misal, dalam sepak bola, semua lelaki terlihat auratnya. Karena memaki sual diatas dengkul. Belum lagi dengan iklan salah satu susu yang selalu menampakkan bagian tubuh lelaki secara fulgar, tanpa sensor, tanpa kritik sedikitpun.

Baik aurat dari sudut pandang agama, atau bagian tubuh yang bisa memberikan interest pada perempuan, terutama sexual interest. Dada lelaki tidak masuk kategori aurat, tapi punya daya tarik bagi perempuan. Juga bagian lain, seperti lengan dan wajah. Semua bagian tubuh itu tidak di blur meski tayang di media massa.

Pembatasan diera yang tak terbatas

Di era digital, era internet dan sosmed. Preferensi publik semakin luas. Pemerintah pun akan kewalahan jika terus melakukan pembatasan. Situs porno diblokir, muncul situs baru lagi, karena pangkalan datanya ada pada privat folder masing-masing. Data-data itu bisa di share melalu sosmed, katakanlah WA. Mudah sekali bukan? Apalagi, setiap orang bisa bikin web atau minimal blog untuk memasang kontent-kontent porno tersebut. Senyatanya, ini bukan semata soal moralitas, tapi juga soal profit ekonomi. Kontent porno banyak diburu dan itu mendatangkan keuntungan iklan yang besar.

Termasuk soal sensor. Ketelanjangan adalah hal yang sangat mudah kita akses. Baik via media, atau secara langsung. Apalagi soal imajinasi dari masing-masing kita, bagaimana cara melakukan sensor? Di kota-kota besar kita bisa melihat dengan gamblang perempuan mengenakan setelan baju minimalis, kalau berjalan pinggulnya bergoyang, lengannya yang mulus terurai diterpa angin dan teriknya matahari. Belum lagi sisi-sisi lain yang bikin jantung lelaki berdesir. Realitas lebih mengerikan ketimbang layar monitor.

Moral menjadi pilihan publik di era yang serba terbuka semacam ini. Disatu sisi negara tidak bisa esklusif dengan membatasi akses publik ke dunia luar melalui internet, disisi lain negara juga tidak bisa mengontrol moral publik melalui aturan-aturan. Kebijakan sensor KPI bisa bermakna dua hal, apa memang benar moral publik kita sudah begitu mengkhawatirkannya, atau itu hanya ketakutan yang berlebih?

Tapi fungsi kontrol sejatinya ada pada Pendidikan kita. Tugas keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, dan yang terkait termasuk media massa. Kemampuan mengontrol melakukan hal-hal jahat, meski ditengah gempuran yang kuat. Jikalau sensor hanya malah memantik daya khayal yang lebih, karena akhirnya justru memunculkan rasa penasaran. Lalu untuk apa gunanya sensor?

Blitar, 19 September 2016
A Fahrizal Aziz

Tidak ada komentar