Kungfu Elite Politik di Pilgub DKI 2017


beritagar pitc



Tidak banyak yang terkejut ketika akhirnya PDIP mengusung Ahok-Djarot di Pilgub DKI 2017. Meski sebelumnya, banyak elite PDIP sendiri yang mengeluarkan argumentasi, termasuk sinyal untuk tidak mendukung Ahok. Salah satunya Bambang DH. Tapi mau bagaimanapun, semuanya tetap berpulang pada big mother-nya, Megawati. Kata salah satu komentator politik, “PDIP memang begitu”.

PDIP adalah Partai besar, yang kadang minim figur dan kelincahan politik. Misal tahun 1999, ketika PDIP menjadi pemenang pemilu, orang mengira Megawati akan menjadi Presiden. Ternyata tidak. Posisinya sebagai ketua umum Partai Pemenang, akhirnya legowo menjadi Wapres, sampai akhirnya ia naik menjadi Presiden karena Gus Dur diturunkan. Andai Gus Dur tidak diturunkan, belum tentu Megawati jadi Presiden.

Juga, ketika pilpres 2004, layaknya incumbent, Megawati harusnya adalah figur yang kuat dan populer. Tapi justru kalah dengan SBY-JK yang notabene penantang baru. Kekalahan itu berlanjut tahun 2009, bahkan lebih telak. Demokrat sebagai Partai baru bahkan merajai parlemen kala itu. Tahun 2014, suasana agak berbeda, PDIP kembali memenangkan pemilu, tapi gagal menguasai parlemen. PDIP pun tidak punya tokoh yang kuat untuk dicalonkan pada Pilpres kala itu, bahkan Megawati sendiri dianggap bukan figur yang kuat untuk menandingi Prabowo. Akhirnya dicomotlah Jokowi yang masih belum selesai memimpin Jakarta.

Termasuk pada Pilgub DKI Jakarta ini, ketika punya kursi penuh untuk mengusung Cagub dan cawagub, PDIP akhirnya mendukung Ahok sebagai Cagub dan hanya menempatkan Djarot sebagai Cawagub. Padahal Ahok ini adalah orang luar PDIP, sementara Djarot adalah kader dan pengurus PDIP. Bahkan sempat terdengar isu akan menarik Risma dari Jakarta.

Fenomena ini menarik kita cermati, bahwa partai sebesar PDIP ternyata tidak selalu mampu membangun figur, ia masih harus nebeng dari figur lain yang notabene bukan dari partai mereka. Dan meski namanya “Partai Demokrasi”, tapi superioritas Megawati tetap kuat layaknya Queen (ratu) yang bisa memutuskan apapun.

Kejutan SBY

Hal paling mengejutkan tentu saja datang dari Cikeas. Partai Demokrat plus PAN, PPP, dan PKB akhirnya mengusung Agus Harimurti dan Sylvianna Murni. Dua figur yang bahkan sama sekali tidak muncul dalam isu politik jelang pilgub DKI. Orang hanya tahu Agus HY adalah prajurit. Rekam jejak politiknya tidak terbaca selama ini. Ketika dicalonkan, orang kaget, para pengamat politik menyambut dengan pesimistik. Bahkan ada yang mengira bahwa ini sejenis “dagelan politik”.

Tapi SBY termasuk lincah dalam berpolitik. Kiranya apa yang membuat figurnya menang di Pilpres 2004 silam? Padahal orang kala itu juga tidak terlalu kenal dengan SBY. Selain karena ketua Partai, dari perawakan, SBY mengalahkan semua calon. Termasuk Wiranto yang seorang Jenderal itu. SBY kala itu dianggap paling gagah, ganteng, dan cocok menjadi pemimpin.

Agus HY punya style itu. Bahkan mungkin lebih menarik. Ia lebih muda. Bisa jadi ini menjadi goncangan politik tersendiri bagi Ibu-ibu. Bahkan sesaat setelah dicalonkan, media-media yang selama ini memberitakan selebritis, mengangkat figurnya dan menyamakan dengan aktor korea. Hasilnya tidak kalah. Perihal kualitas, kita bisa melihatnya pada debat nanti.

Tapi juga jangan terfokus pada Agus HY. Cawagubnya, Syilvianna Murni juga punya akar kultural yang kuat di Jakarta. Ia doktor, birokrat, pernah menjadi none Jakarta, juga asli Betawi. Syilvianna tentu akan lebih atraktif jika berdebat soal birokrasi. Kita tunggu saja apakah kungfu SBY kali ini manjur.

Kejutan Prabowo

Yang mengejutkan pula, adalah ketika koalisi Gerindra-PKS mengusung Anies Baswedan dan menempatkan Sandiaga Uno sebagai cawagub. Padahal selama ini Sandiaga lah yang bekerja keras profilisasi. Sebagai pengusaha, Sandiaga tentu punya capital power. Ia juga mendapatkan mandat langsung dari Prabowo.

Ada apa dengan Prabowo? Sebenarnya bukan itu yang lebih tepat kita tanyakan. Tapi adalah ada apa dengan PKS? Prabowo sebagai ketua umum Gerindra sudah pasti menyorongkan nama Sandiaga Uno. Tapi PKS tidak. Mereka mengalah untuk mendukung nama yang bukan kader mereka. Tapi PKS kini tentu harus dibaca agak berbeda dengan PKS sebelumnya. Presiden-nya, Shohibul Iman, bukanlah orang yang jauh dari Anies Baswedan. Keduanya pernah memimpin kampus yang sama, Paramadina.

Jadi, masuknya figur Anies Baswedan ini menjadikan politik ini semakin cair. Sentimen di Pilpres 2014 silam juga kian mereda. Pembacaan politik juga semakin menarik. Hal ini akan sedikit berbeda jikalau akhirnya, Yusril Ihza Mahendra yang menjadi Cagub.

Apakah kungfu Mega, Kungfu SBY, atau Kungfu Prabowo yang akan manjur. Tapi dari formasi politik yang ada, kungfu Prabowo menjadi sesuatu yang baru dan sangat menarik. (*)

Blitar, 27 September 2016
A Fahrizal Aziz

Tidak ada komentar