Fenomena Ahok, dan Lemahnya Parpol Islam


Ahok



Jika ada orang luar negeri yang melihat iklim Politik di DKI Jakarta mungkin terkaget-kaget. Bagaimana mungkin seorang Ahok yang notabene bagian dari kalangan minoritas, bisa memiliki survey yang tinggi, ditengah banyaknya Politisi Muslim. Kemana gerangan kekuatan Parpol Islam?

Jika melihat itu dari perspektif sekularisme, maka fenomena Ahok menjadi angin segar atas kedewasaan berpolitik warga DKI Jakarta yang tidak lagi melihat figur dari asal usul agama atau etnisitasnya. Tapi jika melihat itu dari perspektif seorang Muslim, maka akan memunculkan sebuah tanda tanya besar. Sebagai negara dengan jumlah Muslim yang signifikan ternyata tidak serta merta signifikan pula kekuatan politiknya.

Bagi Muslim yang patah hati akan berkata, jika ada konspirasi, keberpihakan media, dan keberpihakan oknum pejabat negara untuk menyokong Ahok. Tapi pertanyaannya, kenapa mereka bisa sekuat itu? dan kenapa figur muslim, terutama Parpol Islam bisa selemah itu? kenapa tidak bisa menguasai media, kenapa tidak bisa menyokong figur yang kuat?

Memang salah satu kandidat kuat pesaing Ahok adalah Sandiaga Uno. Seorang Muslim, Pengusaha sukses. Tentu Sandiaga punya financial power yang signifikan untuk menentang Ahok. Tinggal mendapatkan Political Power dari Parpol sebagai legitimasi. Tapi Ahok punya figur power yang nyaris tak terkalahkan, terutama jika dilacak di media. Ahok super populer, bahkan di pelosok-pelosok desa di Indonesia. Politik kini, adalah perang antara kekuatan figur. Kekuatan uang dan kekuatan politik hanya mengikuti.

Kekuatan figur secara praktis dibangun di media, selebihnya melalui kinerja yang nampak terlihat. Mau tidak mau begitulah adanya. Banyak figur-figur hebat di daerah tidak punya power yang kuat hanya karena tidak dikenal. Padahal bisa jadi mereka bisa lebih bagus menjadi pemimpin ketimbang yang terkenal hanya karena balutan pemberitaan yang terus menerus.

Melihat figur dari asal usul agama dan suku memang sudah kuno. Sudah usang. Tapi fenomena Ahok di DKI Jakarta ini sekaligus menjadi pelajaran bagi figur-figur muslim untuk lebih muhasabah, terutama Parpol Islam. Bukan berarti berfikir sektarianisme, namun Agama adalah bagian penting dari unsur Kebangsaan kita. lemahnya Parpol Islam juga tidak melulu karena konspirasi, tapi karena faktanya Parpol Islam belum mampu menunjukkan diri lebih unggul dibanding Partai Nasionalis. (*)

Tidak ada komentar