Sastra dan Orang-orang yang depresi





Apa yang bisa ditawarkan sastra untuk orang-orang yang depresi? Pertanyaan itu sangat praktis sekali, layaknya orang sakit dan minta obat yang ces pleng agar cepat sembuh dari rasa sakitnya. Sastra bisa menawarkan apa? Bukankah sudah ada para psikolog yang siap membantu depresi anda?

Nyatanya para sastrawan itu hidup diantara depresi dan keindahan. Depresi, karena hampir-hampir yang dipotret oleh sastra adalah penderitaan, kesedihan, dan sejenisnya. Indah, karena bahasanya. Meski tidak selalu bahasa itu memberikan keindahan. Ada yang justru menggunakan bahasa yang sangat jauh sekali dari kesan indah.

Puisi-puisi Chairil Anwar sebagian besar mungkin bisa mencerminkan itu. “Hidup adalah menunda kekalahan”. Itulah salah satu potongan puisinya. Chairil mungkin juga tidak depresi layaknya orang yang kehilangan sesuatu yang berharga, atau mendapatkan tekanan yang bertubi-tubi. Depresi adalah manusiawi, meski kalau tidak mampu menahan, agar menjadi gila.

Apakah menjadi gila pun menakutkan? Gila biasanya diartikan orang yang kehilangan akal sehat. Tidak punya lagi rasa malu, dan tidak bisa lagi diajak berkomunikasi dengan baik. Selalu saja ada hal yang menurut kita dilakukannya diluar nalar. Misalkan, orang gila yang kemana-kemana tak menggunakan busana. Orang gila yang selalu berbicara sepanjang waktu meski tak ada lawannya.

Orang gila pun tak akan menyadari kalau dirinya gila, tak bisa lagi merasakan bahwa dirinya tidak waras. Gila artinya hilang rasa. Hilang kesadarannya. Sementara sastrawan, gila dengan kesadarannya, namun tidak depresi. Chairil mungkin sudah gila sebelum depresi. Puisi-puisi depresinya lahir dengan kegilaan yang penuh kesadaran. Tapi, banyak yang berkata bahwa puisi Chairil tercipta karena dia tengah dirundung depresi, bahkan sampai akhir hayatnya yang hanya diusia 27 tahun itu.

Tidak logis sekali bukan? Biasanya orang-orang depresi berbuat sesuatu diluar kontrol dan kesadaran, dan sastra adalah karya yang tercipta karena kontrol diri. Bisakah orang yang tidak waras menyusun diksi yang indah dan membuat banyak pemaknaan? Dua hal itu hanya bisa dilakukan orang yang sadar, waras, namun memilih gila.

Gila yang menjadi pilihan. Bukan gila yang tanpa pilihan. (*)

11 Februari 2016

Tidak ada komentar