Islam Formalisme



Oleh: Khabib M. Ajiwidodo

Tidak dipungkiri bahwa Islam menjadi bahan yang menarik untuk di kaji, baik dari segi pemikiran, sejarah, sosiologi, hukum   maupun yang lainnya. Perhatian terhadap Islam, baik oleh pengkaji Islam maupun oleh lainnya telah melahirkan beberapa istilah yang mendeskripsikan muatan dari kecenderungan pemikiran Islam. Ada yang bersifat dikotomis, seperti Islam modernis versus Islam tradisional, Islam normatif versus Islam historis, Islam eksklusif versus Islam inklusif, Islam substantif versus Islam formalis, dls. Kali ini yang akan kami bahas adalah mengenai Islam Formalis.


Sebelum Islam masuk di Indonesia, Masyarakat sudah menganut berbagai macam kepercayaan, baik itu kepercayaan agama seperti Hindu dan Budha, maupu kepercayaan terhadap roh yang berkuasa seperti Animisme dan Dinamisme. Setiap Insan manusia memang mempunyai sifat bawaan yaitu sifat hanif, suatu sikap yang berkencenderungan mencintai kebenaran. Proses masuknya Islam di Indonesia beriringan dengan lancarnya jalur pelayaran perdagangan internasional. Pola budaya seperti postur tubuh, bahasa dan pakaian menjadi sangat menonjol kala itu. Keberagaman budaya dan strata kehidupan itulah yang memberikan kontribusi lahirnya aliran Islam Formalistic.


Kelangsungan Islam Formalistic itu juga terjadi sampai sekarang,  banyak factor yang melatar belakangi terjadinya Islam Formalistic di era sekarang, antara lain :

1.      Pendidikan,
 pendidikan yang kurang tentang Islam menyebabkan kerancuan pola pikir seseorang. Masyarakat yang berpendidikan pas pas an mengenai Islam kan melihat Islam hanya dari sisi formalistiknya saja. Contoh: orang dikatakan ahli agama / ulama/ intelektual muslim dilihat dari cara mereka berpakaian, memakai peci atau sarung. Orang yang awam tentang pendidkan agama menganggap semua yang bernafaskan Arab adalah bagian dari Islam.


2.      Ekonomi,
Untuk meyakinkan bahwa Barang dagangannya atau produknya itu sesuai dengan ajaran Islam, maka ditambah istilah “syariah” di belakangnya. Ini bisa di lihat di dunia perbankan. Pada kenyataannya antara bank konvensional dengan bank syariah itu sama saja. Hanya dengan lebel “syariah” maka masyarakat akan menganggap bahwa itu sudah Islami.

3.      Kekuasaan / Politik
Banyak sekali para politisi yang melegetemasikan organisasi politiknya dengan label islam. Hal itu dilakukan semata mata untuk meraih hati Umat Islam agar memilih gerbong politiknya. Walaupun kenyataannya Partai Islam ataupun Partai non Islam kelakuannya sama saja. Ketika memasuki waktu pemilihan umum, bisa kita jumpai betapa banyaknya para calon legislative atau kepala daerah atau bahkan calon Presidenyang menjual agamanya  demi kepentingan politik.   

Dari jaman dulu, sudah banyak partai politik yang menggunakan Symbol Islam, akan tetapi semuanya berada di bawah partai non Islam (nasionalis). Kejadian seperti ini bisa dimanfaatkan partai partai non basic islam untuk memanfaatkan isu reformis. Sejak pasca reformasi sampai Saat inipun di gencarkan kembali isu khilafah, mereka melayangkan konsep khilafah di sebuah yang mana Negara di itu diperjuangkan dan di bangun oleh para tokoh Islam masa lalu.

4.      Prestise / harga diri
 Watak setiap orang adalah ingin di hargai dan dianggap paling (Islami), sehingga saat ini banyak sekali orang yang menggunakan gelar keagaam yang diperolehnya melalui Ibadah. Banyak orang supaya kelihatan Islami maka wajahnya di paksakan memelihara jenggot, bahkan ada yang sampai menggunakan minyak penumbuh jenggot, supaya kelihatan Islami banyak orang yang memakai sorban, Begitu pula orang yang sudah naik haji, banyak orang yang tidak mau di panggil nama panggilan biasa, akan tetapi minta dipanggi “bu haji”, “pak haji” “abah” ataupun “umi”.


Mereka sangat mengagungkan gelar haji atau bahkan (maaf) kiai. Selain hal tersebut juga bnyak di kalangan orang Islam yang lebih bangga menggunakan istilah arab ketimbanga bahasa Indonesia atau bahasa daerahnya. Nilai Islam yang sebenarnya belum menjadi panduan dalam aktivitas kesehariannya.

Berkenaan dengan Islam formalistic ini, Dr (HC) Ir. Soekarno mengatakan  dalam sebuah penggalan pidato yang disampaikannya pada saat perayaan muktamar Muhammadiyah “Tetapi apa jang kita ‘tjutat’ dari Kalam Allah dan Sunnah Rasul itu? Bukan apinja, bukan njalanja, bukan flamenja, tetapi abunja, debunja, asbesnja. Abunja jang berupa tjelak mata dan sorban, abunja yang yang mentjintai kemenjan dan tunggangan onta, abunja jang bersifat Islam mulut dan Islam-ibadat — zonder taqwa, abunja jang cuma tahu batja Fatihah dan tahlil sahaja — tetapi bukan apinja jang menjala-njala dari udjung zaman jang satu ke udjung zaman jang lain ….”


Tokoh Nasional  berkiprah di Internasional seperti Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA juga mengeluarkan suaranya yang berkaitan dengan Islam formalistic, “persolan formalisme Islam saat ini telah menjadi polemik dalam masyarakat, terutama di dunia politik. Ia mengaku lebih memilih subtansi ajaran Islam itu sendiri dari pada formalismenya. ”Tentu kalau kalau saya pribadi memilih subtantivisme, yakni penekanan pada substansi atau nilai-nilai Islam untuk memperjungkan kesejahteraan, kemajuan dan keunggulan umat Islam, ”Kalau ada di antara umat Islam ada yang menekankan formalisme keislaman terutama dalam politik itu adalah hak mereka.  Selama itu masih dalam koridor demokrasi dan konstitusi,”


Memang benar kata Soekarno dan Din di atas, bahwa Islam itu sekedar mengajarkan caranya beribadah kepada Allah SWT saja, tidak sekedar Islam dari segi penampilan , akan tepai Islam itu juga mengajarkan bagaimana hubungan manusia dengan manusia lain (humanistic). Banyak di sekitar kita yang hanya Islam KTP, mengaku Islam tapi hanya di bibir saja. Disekitar kita juga banyak orang islam yang hanya mementingkan ibadah kepada Allah, akan tetapi melupakan masyarakat sekitar, mereka lupa bahwa tugas manusia di bumi sebagai “khalifatullah”, yakni wakil Allah dalam mengurus bumi se-isinya. Para penikmat Islam formalis lebih mementingkan sisi formalislmeketimbang Islam secara  Substansi.

 Wallahu a’lam bishowab

Tidak ada komentar